Posts

Showing posts with the label cerbung

Ra, Kita Harus Bercerita Lagi

Ra, lama sudah kita tidak berjumpa. Namun itu tidak berarti rasaku padamu luntur begitu saja. Janji setia dihadapan Orangtuamu dan Yang Maha Kuasa masih ku jaga dengan sebaiknya. Kamu musti percaya apa yang aku ceritakan tadi. Aku masih di sini, setia dengan janji dan kisah ini. Ra, sejak kepergianmu tidak ada lagi kopi yang menghangatkan malamku. Tidak ada lagi tepukan manja dibahuku yang kau layangkan secara tiba-tiba ketika hatimu cemburu.

Ra, Dengarkanlah Saja XX

Image
Ra, kamu ingat tidak penggalan lagu iklan salah satu produk pembersih wajah kaum hawa suatu masa dulu. Kalau kamu lupa, boleh aku tirukan lagi, kira-kira begini, “Walau badai menghadang, ingatlah ku kan selalu setia menjagamu, berdua kita lewati jalan yang berliku tajam.” Kamu sudah ingat sekarang? Yang kamu perlu tahu, setiap aku memutar memori tentang lagu itu, aku selalu ingat jerawatmu 10 tahun yang lalu. Ah, Ra jangan kau pukul aku begitu, sakit tahu. Aku bercanda kok. Kamu mau tahu yang sebenarnya? Setiap aku mendengar lagu itu, aku secara teratur mengucapkan syukur kepada Tuhan atas pertemuan yang dihadiahkan untuk kita. kamu tentu sangat paham kan bagaimana kondisi emosional aku yang kadang-kadang tidak stabil. Sepertinya aku sudah menceritakannya sekali waktu di awal pertemuan kita. kamu sudah banyak mendewasakan aku dan yang lebih penting engkau punya andil dalam mendekatkan aku kepada Pencipta kita. Ya, itu yang paling penting, Ra. Terima kasih, Ra. Ra, aku teringat sat...

Ra, Dengarkanlah Saja XIX

Image
Ra, aku cuma mau mengingatkan kalau hari ini sepuluh tahun yang lalu kita saling bertukar pandang. Kamu melihat ke arah barat aku melihat ke arah timur, lalu kornea mata kita berjumpa pada titik yang sama yaitu keyakinan dan keikhlasan. Kita membangun hubungan kala itu sangat tidak mudah. mulai dari sikap temperamen aku yang tidak karuan dan juga kadar kecemburuan kamu yang luar biasa. Aku bisa memaklumi itu, karena kita sama-sama berada pada ego masing-masing yang masih tinggi. Apalagi saat beberapa hari sebelum aku melamarmu, aku sempat kebingungan dan aku hendak ingin pergi lagi. Kamu ingat kan peristiwa bodoh itu. Terkadang aku memang benar-benar bodoh pada banyak hal, Ra. Harap maklumi saja ya. Ra, kamu tahu tidak berapa besar sikap respek aku terhadapmu ketika aku berjumpa denganmu dulu. Sikap respek ku terhadapmu sangat besar hingga aku tidak berani berbicara bertatap wajah denganmu. Aku tidak tahu mengapa itu terjadi. Mungkin kamu lebih dewasa daripada aku, Ra. Anggap saja beg...

Ra, Dengarkanlah Saja XVII

Image
Ra, kangen kamu boleh? Sayang sama kamu boleh? Sayang seperti ketika jumpa dulu. Ketika kita sama-sama menyembunyikan rasa rindu berbulan-bulan. Kamu ingat tidak ketika kamu mengantarkan aku makan malam berisikan daging rendang itu. Ingat tidak? Aku masih sangat ingat peristiwa bersejarah itu lho . Kamu mengirimkan aku pesan singkat yang hingga beberapa lama masih ku simpan. Dan pesan singkat itu terhapus ketika ponsel serba bisa yang ku miliki menemui ajalnya. Hehehe. Eh, Ra, aku hampir punya kerja tetap lho, tapi masih tetap sebagai buruh, bukan pemimpin. Tak mengapalah, asalkan kerja kita halal kan Ra? Ra, ada satu cerita yang ku alami jauh sebelum aku mengenal kamu. Ini tentang teman kelasku yang diam-diam juga kami saling jatuh cinta. Awalnya kami memang tidak saling mengenal hingga suatu hari kami dihadapkan pada kenyataan untuk bekerja sama dalam tugas kelompok. Namanya juga pelajar kan. Pasti ada banyak tugas dari dosen. Nah, ini adalah awal mula kedekatan kami. Setah...

Ra, Dengarkanlah Saja XVI

Image
Ra, sudah lama sekali aku tidak berbagi cerita denganmu kan. Entah itu karena kita terlalu sibuk atau kamu yang selalu tidur terlalu cepat beberapa minggu ini. Aku kesepian lho , Ra. Tidak ada kawan cerita. Ah, tak mengapa lah, aku sangat memberi pengertian akan hal itu. Tidak menjadi soal, karena kamu sudah sangat baik bagiku. Aku harus banyak mengalah dan berusaha sabar. Karena yang aku tahu, kealpaanmu berarti ada kesalahan pada diriku pribadi. Aku harus menjaga eksistensi egoisme harus tetap di bawah rata-rata. Benar kan Ra? Untuk malam ini kita minum teh hangat saja. Dan tadi, ada ku belikan gorengan tahu dan tempe kesukaanmu di masa gadis dulu. Sepertinya sudah sedikit dingin. Kamu ambilkan saja dulu. Nanti kita celupin ke teh buatanmu. Terima kasih, Ra. Sekarang aku mau melanjutkan ceritaku yang tertunda itu. Sebelumnya lihat dulu ke awan sana, ada beberapa bintang yang tersenyum padamu. Ra, dulu lama sekali ketika aku mulai jalan-jalan ke beberapa kota aku bertemu de...

Ra, Dengarkanlah Saja XV

Image
Bismillah. Aku mulai menulis dengan Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Begitu lho Ra. Memang harus begitu, menulis itu butuh keikhlasan dan ketekunan yang luar biasa. Kamu harus percaya apa yang aku bilang. Aku tidak memaksa kamu, tapi aku cuma berbagi ilmu tentang menulis tingkat abal-abal. Begitu aku yang aku rasakan, menulis itu adalah proses menggabungkan beberapa ide juga masalah memilih kata yang tepat untuk mendapatkan rangkaian yang sesuai. Ra, malam ini tepat 24 hari aku tidak disampingmu. Maka dari itu aku cuma bisa mengirimkan sebuah surat cinta tanda sayangku terhadapmu belum sempat terkikis dan ini karena Allah, Ra. Yakini saja begitu, karena jika pun aku berbohong, Allah masih bisa mengetahui kebenarannya. Ah, tak usahlah aku berbicara yang bukan-bukan karena nantinya kamu akan merasa bersedih lagi. Apalagi tidak ada aku di sampingmu. Aku tidak sanggup membayangkan itu terjadi padamu. Ra, melalui surat ini aku tetap mau bercerita tentang masa l...

Ra, Dengarkanlah Saja XIV

Image
Ra, kita pergi ke taman kota yuk . Di sana kita bisa jalan-jalan sepuasnya lho . Seperti waktu itu, seminggu menjelang hari peminanganku. Saat itu aku sempat “menculikmu” sesaat hanya untuk sekedar jalan-jalan walaupun kita sudah berikrar untuk tidak jalan-jalan lagi. Hari itu adalah hari yang bersejarah bagiku, karena beberapa hari sebelumnya aku sempat mengalami guncangan keraguan yang berlebih sehingga ada keinginanku untuk menjauh lagi darimu dan menjadi rutinitas yang terulang untuk kesekian kalinya. Menurutku, hari dimana aku “menculikmu” adalah hari aku benar-benar memantapkan diri untuk meminangmu. Dan hasilnya kita berhasil untuk tinggal seatap rumah. Ra, kamu tahu tidak kenapa saat itu aku mengalami guncangan keyakinan yang membuncah? Ini disebabkan dua hari sebelum itu, teman perempuanku yang pernah dekat denganku pulang dari perantauannya. Dia seorang model sebuah majalah pariwisata ternama. Dia meneleponku untuk menjemputnya di bandara. Seperti biasa, aku tetap mengiyaka...

Ra, Dengarkanlah Saja XIII

Image
Ra, kamu ingat tidak lagu di ketika kita masih duduk di bangku TK, "mawar melati semuanya indah?" Mungkin itu penyebabnya aku menceritakan banyak kisah hidupku dengan banyak "mawar melati" yang menurutku semuanya indah. Aku tidak bohong Ra. Sebelum kita menikah semua akan terlihat indah dimata kita. Ada banyak hal yang positif terlihat dari mawar A, melati B, mawar C, melati D dan seterusnya. Namanya saja mata lelaki. Susah untuk dipisahkan dari sekelumit permasalahan dasar atas nama nafsu. Nah malam ini aku mau bercerita panjang lebar tentang kegelisahanku untuk menghalalkan segala cara demi kepuasan nafsu belaka. Ceritanya sepulangnya aku dari negeri orang putih, pada bulan-bulan awal aku sangat tersiksa. Di sini tidak ada “ mawar ” yag bisa di nikmati secara sembarangan. Pun itu bisa harus melalui proses yang berliku dengan membayar si A, B, C dan D. Peraturannya sangat ketat. Bisa-bisa aku di cambuk dihadapan khalayak ramai. Untuk mengobati kerinduan akan...

Untuk Kita: Happy Anniversary, Ra.

Image
Ra, suasana sedikit pelik akhir-akhir ini. Aku tidak tahu. Entah mengapa. Terasa ada yang berubah begitu. Tapi tak mengapa lah, anggap saja angin lalu. Sekali berlalu tak pernah kembali. Begitu juga dengan kisah hidup kita. Seandainya aku berubah pikiran dan pergi beberapa minggu sebelum meminang kamu, bisa saja kita tidak serumah. Malam ini tidak ada kisah tentang berapa banyak perempuan yang pernah lengket dengan hati dan hidupku. Bukan itu, Ra. Aku bercerita tentang perempuan di masa laluku bukan tanpa alasan. Niatku cuma satu, hanya ingin memperjelas bahwa aku bukanlah lelaki sempurna dengan kehidupan normal seperti ahli surga. Masa laluku sangatlah suram. Walaupun tidak lebih suram dari teman-teman seusiaku saat itu. Ra, kamu masih mencintaiku? Ku harap masih. Karena itu bukan sebuah pertanyaan serius dan tidak layak untuk ku tanyakan. Pasti cinta itu sekali seumur hidup. Sepatutnya begitu kan Ra. Ra, kamu lupa sesuatu kali ini. Ini Anniversary ke-6 sejak kita berjumpa kala itu,...

Ra, Dengarkanlah Saja XII

Image
Ra, Alhamdulillah kita sudah kembali ke kota Bunda, walaupun untuk beberapa saat lagi kita harus pindah lagi ke kota PaPa. Ini juga kali pertama kita berlebaran dirumah dua keluarga. Kamu ingat kan suatu waktu aku pernah menulis tentang Menikah: Behind The Scene . Di sana aku menulis tentang hakikat menikah itu ya mempersatukan dua keluarga dari dua latar belakang yang berbeda. Dan sekali lagi, Alhamdulillah kita sudah berhasil melakukannya. Semoga ke depan kita bisa melanggengkannya untuk selamanya. Kalau orang Melayu cakap, “sampai bile-bile”. Kamu setuju kan, Ra? Ra, kue lebaran kita masih banyak kan? Bawakan kemari, kita cicipi bersama. Aku mau nyicipin kue buatanmu itu lho. Kan aku tahu kamu pandai meracik kue, walaupun sesekali kamu gagal bereksperimen. Bolehkah aku sedikit tersenyum mengenai kegagalanmu membuat kue, Ra? Kalaupun tidak, pun tidak mengapa. Karena esensinya bukan pada kenikmatan kuenya, tapi pada seberapa besar keikhlasan dan kebersamaan ketika kita menikmat...

Ra, Dengarkanlah Saja XI

Image
Ra, Alhamdulillah, lebaran Idhul Fitri kita sangat menyenangkan bukan? Ngomong-ngomong kapan kita akan punya momongan ya? Seperti tetangga sebelah itu lho. Baru dua tahun menikah, sudah punya tiga anak. Kamu jangan berfirasat yang jelek terhadap tetangga kita. kebetulan mereka mempunyai anak kembar tiga, makanya dua tahun bisa langsung punya tiga anak. Bukan karena kecelakaan yang diluar prediksi, Ra. Eh, kamu sudah siapkan barang-barang untuk pulang ke rumah mertua belum? Karena kita akan berangkat pagi-pagi. Petualangan pertama dengan status suami istri. Alhamdulillah. Perjalanan kita besok akan sangat panjang nan romantik. Betapa tidak, kalau dulu aku sering di temani gadis yang ku anggap teman dekat, nah sekarang aku sudah di temani oleh seorang gadis muslimah yang sudah sah menjadi pendamping di mata agama apalagi di mata negara. Ra, malam ini aku ingin menikmati kopi buatanmu lagi, Ra. Kopi terbaik dari racikan terbaik oleh pendamping terbaik. Pasti rasa kopinya tetap pahit j...

Ra, Dengarkanlah Saja X

Image
Ra, malam ini aku merasa sedih. Kamu tahu kenapa? Karena kamu masih merasa sedih perihal ceritaku beberapa malam yang lalu. Ra, benar saja. Ketika itu, aku belum mampu berpikir lebih jernih. Aku benar-benar khilaf. Karena kehidupan di sana ya begitu adanya. Tergantung pada pertahanan diri yang kita bawa dari kampung. Kalau benteng pertahanannya baja, ya, Insya Allah kita aman-aman saja. Nah, ini lain cerita. Aku yang bukan siapa-siapa, Cuma sempat mempersiapkan tameng abal-abal ketika pergi ke sana. Makanya aku terjerumus ke kehidupan yang di larang agama kita, Ra. Masihkah kau mencintaiku, Ra? Ra, pikiranku kacau sekarang jika kamu tidak mau bicara dan bermuka cemberut begitu. Ra, haruskah aku berlutut maaf padamu? Namun sebelum itu, aku mau menuntunmu menuju tempat wudhu bersama, seperti biasa. Malam ini kita akan melakukan ritual rutin kita. sudah seminggu lebih kita meninggalkannya. Siapa tahu dengan melakukan shalat malam bersama dapat meredakan amarah dan emosi kita. kita akan b...

Ra, Dengarkanlah Saja IX

Image
Ra, aku bisa saja sangat berdosa pada diriku sendiri dan pada kamu. Aku benar-benar tidak kuasa untuk bercerita tentang hal ini. tentunya terkait dengan masalah perempuan. Aku sangat teringat ketika kamu duduk di pojok bandara ketika melepaskan ku pergi untuk melanjutkan studi ke luar negera. Kamu menyiratkan perasaan tidak ingin melepaskan kepergianku. Walaupun saat itu kita masih teman biasa. Kamu ingat bukan? aku tidak punya perasaan apa-apa terhadapmu selain sebagai teman. Begitulah ketika itu. Aku ingin bercerita tentang kehidupan ku di luar negara sana. Dan tidak lepas daripada pesona gadis di sana. Ya, benar sekali. Awalnya adalah proses adaptasi dengan lingkungan sekitar. Kehidupan di sana, tentunya kamu sudah sangat paham. Serba bebas, tidak ada larangan. Dari sinilah cerita itu bermula. Ra, sekali lagi aku berlutut maaf padamu dan kamu harus mendengar cerita ini. dengan sangat berat, kamu harus mendengarnya. Setelah dua bulan aku di sana, aku mulai sering menjeljahi klub...

Ra, Dengarkanlah Saja VII

Image
Ra, tidak terasa sudah genap setahun kita berumah tangga. Ini adalah Ramadhan pertama kita semeja makan. Seperti kata orang-orang, Ramadhan bersama istri tercinta itu penuh dengan kebahagian dan keceriaan. Walaupun makanan berbukanya cuma tahu goreng dan air tebu, tetap terasa nikmat nan berkah. Terima kasih, Ra. Ra, aku punya cerita baru. Tentang aku di masa remaja, tepatnya ketika aku masih duduk di bangku Tsanawiyah, kelas tiga. Di mana masa tersebut banyak anak remaja mengenal pacaran, mengenal surat cinta, mengenal kirim salam kenal untuk hubungan yang katanya serius. Ku rasa kamu sangat paham itu, Ra. Bukankah kamu juga pernah mengalaminya, walaupun tidak di tahun yang berbeda. Setidaknya tidak ada perbedaan yang sangat jauh. Pun kamu sama-sama pernah sekolah seperti ku. Ra, yang perlu ku garis bawahi adalah aku mengidap sindrom marmut merah jambu tidak separah teman-temanku pada kebanyakan. Semisal, aku bertemu dengan perempuan, yang notabene nya meu ie breuh alias c...