Posts

Showing posts with the label cerpen

Malam Minggu dan Semangkuk Bakso.

Image
Hujan masih terlalu lebat untuk dihadapi. Walaupun hanya gerimis sedang, tapi cukup untuk melahirkan virus dan bakteri penyebab flu untuk kadar manusia seperti Jihan. Jihan gadis berperawakan tinggi besar yang mala mini mengajakku keluar untuk mencari suasana yang sedikit berbeda. Kami sebenarnya sudah lama juga tidak keluar bareng. Biasanya dia keluar dengan pasangannya, tapi entah ada angin ribut apa, dia mengajakku keluar malam ini. “Malam ini kau temani aku keluar,” begitu katanya. Image :  www.wafertango.com Seperti biasa, aku langsung mengiyakan ajakannya. “Ok, sip, jemput,” jawabku singkat padat nan jelas tanpa bertanya kemana dan untuk apa. Tepat pukul 09.00, dia menjemputku. Dari jauh sudah terdengar suara motor saktinya yang meraung-raung. Dia memang seorang perempuan namun perkasa. Maklum saja, temannya lelaki semua termasuk aku. Tentang teman perempuan, hanya satu dua saja. sesaat kemudian ia dan motornya berdiri tepat di depan serambi rumahku. ...

Dua Jam Lagi, Ayah!

Image
Image : catatansizuki.files.wordpress.com Banda aceh, 25 Juli 2005. “Bapak sudah tiada ,Nak” begitu suara sayup di ujung teleponku. Tubuhku langsung bergetar mendengar berita tersebut. Tak ada kata terbersit di mulutku kecuali hati bisu kelu berurai sedih. Mukaku pucat pasi tak bergerak, rautnya datar tenggelam dalam hening pagi mentari yang cerah. Awan yang cerah seakan merubah wajahnya menjadi hitam melihat kelesuanku di sudut ruang yang sunyi. Tanpa banyak berbicara lagi aku langsung bergegas untuk melihat wajah ayah yang sudah tiada untuk terakhir kalinya. Perlu di ketahui, aku sudah lama tidak bertemu dengan ayah, karena kesibukan kuliah di sebuah kota kecil di daerahku. Aku sudah cukup lama tidak berjumpa dengan beliau dan bahkan semasa hidupnya juga aku kurang mendapat “perhatian” dari beliau, tapi itu tidak masalah bagi aku. Mungkin karena sibuk untuk mencari nafkah untuk menghidupi keluarga kecilnya yaitu ibu, aku dan adik-adikku. Aku hanya bisa berjumpa dengan ...

Just Because Everythings Changing part III

Image
“Ketika tiba saat perpisahan janganlah kalian berduka, sebab apa yang paling kalian kasihi darinya mungkin akan nampak lebih nyata dari kejauhan - seperti gunung yang nampak lebih agung terlihat dari padang dan dataran.” Image :  www.urbanlinemag.com Syarifah memang nama yang indah. Kebanyakan di pakai oleh orang orang yang katanya keturunan sahabat pada masa Nabi Muhammad SAW dulu. Tapi Syarifah ini sangatlah berbeda, Ia bukanlah keturunan dari orang-orang tersebut. Ia hanya wanita biasa yang terlahir dari keluarga yang biasa pula. Ayahnya sudah meninggal ketika dia baru memasuki usia 14 tahun. Saat itu ia duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama. Kira-kira pada saat kelas 2. Seperti kebanyakan orang, dia sangat terpukul apalagi  harus  kehilangan  seorang ayah, sosok yang selalu memberi semangat hidup kepada nya. Ketika itu Syarifah masih belajar di sebuah pesantren yang terkenal di daerahnya. Pesantren tersebut telah mencetak banyak mutiara penerus ba...

Just Because Everything Changing part II

Image
Apa yang benar dan mungkin kemarin, hari ini dipertanyakan dan mungkin esok bisa salah. Image :  sharyrus.blogspot.com Dua hari setelah lebaran Idul Adha, masih banyak orang yang mengunjungi sanak familinya. Ada yang sekedar untuk bersalam-salaman, ada juga yang ingin melepas rindu karena lama tak bersua. Ada juga yang bersilaturrahmi karena ingin menguburkan dosa masa lalu karena sebuah pertikaian. Banyak ragam insan merayakan hari besar Islam nan indah itu. Lain halnya dengan diriku, aku hanya terdiam sendiri di rumah. Aku menunggu kunjungan orang lain saja karena memang rumah keluargaku adalah tempat berkumpul keluarga besar kami.             Jam menunjukkan pukul lima sore, terlihat masih banyak tamu yang bergentayangan di ruang tamuku. Aku tak ambil peduli, setelah bersalaman aku langsung mengasingkan diri ke kamar tidurku. Biasanya aku hanya bisa sms -an ataupun facebook -an seharian suntuk di ruangan 5x4 t...

Just Because Everything Changing part I

Image
“Kecantikan bukan berada pada raut wajah, dia terpancar bagai serunai sinar dari dalam hati.”  Kahlil Gibran (1883-1931). dreamnfun.com           Jam menunjukkan jam setengah lima sore, sudah masuk waktu kuliah mata kuliah di semester ini. Aku tak ingin beranjak dari tempat tidur untuk mengikuti pelajaran yang bikin jantung berdetak lambat. Saking bosannya, tak ada yang mau memperhatikan sang guru yang memberi wejangan sore. Hanya beberapa penjilat muda yang selalu bersuara lantang mengejar nilai yang tak berbobot harganya. Walaupun begitu aku berusaha untuk mengejar sang waktu untuk sampi keruangan secepat mungkin. Hanya butuh beberapa kata-kata keramat untuk merayu sang guru kalau saja nanti terlambat. Seperti biasa, alasan lama pun lahir di ingatan secara spontan. Dan seperti yang terprediksi olehku, aku telambat hampir setengah jam untuk mengikuti pelajaran yang sangat aneh ini.       ...

Kuburan Ta Peugala

Image
             Source Image :  theglobejournal.com Suasana di ruang tengah masih tegang. Semua keluarga yang berkumpul angkat bicara. Tidak ada seorang pun yang ingin mengalah dan ikut pada keputusaan bersama. Semuanya mengeluarkan ide-ide gila. Tidak logis, bahkan bisa dikatakan durhaka. Tiba-tiba, seluruh ruangan dikejutkan dengan suara tamparan kayu meja. “Plaakkk!” Suaranya setidaknya bisa mendiamkan suasana yang bak hiruk pikuk pasar pagi. “Kita berkumpul di ruangan ini tujuannya hanya satu. Membicarakan hal yang penting dan kita keluar dengan sebuah hasil,” Marzuki mengangkat suara. “Hasil yang bagaimana? jika kita di sini saling hujat, cerca dan hina. Sudah satu setengah jam kita saling menuding, menaruh curiga dan membalas hina,” balas Amin. “Baiklah, semuanya tenang. Kita kembali ke permasalahan awal. Kita berkumpul di sini untuk membicarakan tentang kebangkrutan perusahaan keluarga kita. Dan di sini kita perlu solusi. Apa yang ...

Gadis Berparas Hindi Part III

Image
wendyaditya-apriady.blogspot.com Sehari setelah aku berkumpul di café bersama Sarah cs, aku memutuskan untuk pergi dari kehidupannya Sarah. Pekerjaan dikantor yang sedang sangat banyak pun tak ku peduli lagi. Surat pengunduran diri sudah ku siapkan untuk kuserahkan pada pimpinan hari ini. aku benar-benar kalap. Menurutku, ini adalah buah pengorbanan yang harus ku terima. Dengan guru-guru di sekolah Sarah pun tak perlu pamit pikirku. Mereka kan hanya teman biasa, yang baru bertemu sebentar. Jadi aku urung pamitan pada mereka.             ***             Tidak banyak yang bisa dibuat oleh pimpinan perusahaanku perihal pengunduran diriku. Tentunya aku tidak merinci mengapa aku mengundurkan diri. Hanya ku sebutkan untuk urusan pribadi semata. Dia mengijinkanku pergi dengan sedikit pesangon. Karena saat iti pun perusahaan sedikit goyang karena krisis ekonomi kala itu. ...