Posts

Ra, Dengarkan Saja V

Image
Ra, kamu sudah siap bersolek belum? Jangan lama sekali. Nanti kamu akan telat lho ke kampusnya. Kamu tahu kan dosenmu hari ini sedikit killer . Kamu sering bercerita tentang dosenmu yang satu ini. selain itu, secantik apapun kamu bersolek, cantik alamimu akan tetap ku banggakan. Itu yang mesti kamu ingat, Ra. Ra, kamu tidak perlu bersusah payah untuk menyaingi gadis yang ku ceritakan kemarin ketika kita bercengkrama di kolam kampus. Iya, gadis yang kemarin itu ku ceritakan padamu, yang dia punya paras cantik hasil solekan tebal bedak import bermerek singapura. Ingat kan kamu? Kalau kamu tidak ingat akan ku ceritakan lagi ya.             ***** Gadis itu sebenarnya kakak kelas aku sewaktu sekolah dulu. Kami berjumpa saat kami bertukar buku dalam pustaka. Semacam cerita FTV, tapi ketika itu aku belum sempat menonton FTV. Aku sibuk dengan duniaku. Jadi waktu itu, dia salah mengambil buku, kebetulan kami semeja. Dia bermaksud me...

Ra, Dengarkan Saja IV

Image
Ra, tolong ambilkan kopi untukku ya. Badanku terasa kurang enak malam ini, Ra. Anginnya terlalu ganas untuk badanku. Aku lelah, Ra. Boleh tidak kau berbagi bahumu walaupun hanya sesaat? Aku sangat lelah, Ra. Benar-benar lelah. Terima kasih, Ra. Ra, aku teringat dia, gadis yang pernah ku ceritakan sekilas kala itu. Kamu masih ingat? Itu lho gadis dari negeri nun jauh itu. Kamu tahu tidak aku pernah benar-benar terkesima dengan tingkah polahnya. Kala itu kami sering berbagi cerita, bercerita tentang impian kami yang sama-sama ingin mengunjungi museum di Leiden, Belanda. Ya, kamu benar sekali, museum itu banyak menyimpan kisah sejarah kita, bangsa Aceh. Begitu kata orang-orang di dunia nyata maupun maya. Aku mengenal gadis itu secara tidak sengaja, Ra. Ketika itu, matahari sore merah saga, aku sedang menyendiri di bawah pohon mangga. Dia pun berpapasan denganku. aku yang terlanjur menyapanya mulai terciut diam seribu kata. Tapi bukan aku namanya kalau tidak pandai berpura-pura...

Ra, Dengarkan Saja III

Image
Kau sudah mengantuk, Ra? Jangan tidur dulu, boleh? Aku punya cerita malam ini, anggap saja dongeng pengantar tidurmu. Ceritanya sedikit lucu, bukan kisah cinta masa remaja, yang biasa kita sebut cinta monyet. Bukan tentang itu. Ini tentang perkenalanku dengan dua remaja dan seorang gadis dari negeri Hayati. Negeri itu lho, yang filmnya kau tonton berulang-ulang sambil komat kamit menirukan kata-katanya. Kau tentu tahu dimana negeri itu, bukan? Maka bermula kisahnya ketika aku memulai studi ku. Ku ceritakan dulu tentang dua remaja ini. Satu perempuan dan yang satunya lagi adalah lelaki. Sudah boleh di sebut lelaki, mungkin, kala itu. Ya, benar saja, mereka berdua, sepasang. Mereka adalah orang yang menurutku hebat di bidang masing-masing. Ku ceritakan dulu yang perempuannya. Perempuan gila menurutku. Gila dalam segala hal, ku rasa. Betapa tidak, dia mempunyai suara yang menurutku tidak sesuai dengan postur badannya. Suara besar dengan perawakan kecil. Benar-benar tidak sesuai ...

Thanks Cataleya

Image
Image :  en.wikipedia.org Semua kembali pada keadaan semula setelah 2 minggu lama aku menjauh darinya dengan tanpa alasan apapun terhadapnya. Bersalah? Enggak. Ia tak bersalah, hanya saja aku yang ingin menenangkan diri terhadap apa yang terjadi selama ini antara kami berdua. Walaupun aku menjauh ia tetap mengirimkan pesan seperti biasa walaupun aku tak pernah menghiraukannya. Sayang, iba, merasa tidak enak. Itu pasti ada, tapi ada masalah yang lebih harus diprioritaskan terlebih dahulu daripada memperhatikan perasaan dia. Karena ini lebih penting daripada sekedar membina hubungan sekarang. Masalah sekarang menentukan hubungan-hubungan 5 tahun kedepan. Awalnya mungkin hanya sekedar salah dalam berbicara sehingga menimbulkan emosi yang tidak jelas dari diriku sendiri. Aku mungkin lumayan tidak nyaman terhadap keadaan yang demikian. Supaya masalah tersebut tidak menjalar kemana-mana makanya aku menjauh sejenak untuk menenangkan diri agar aku bisa melihat siapa yang benar da...

Ra, Dengarkan Saja II

Image
Ra, sudah lama kau di sini? Aku benar-benar tidak tahu kalau kamu sudah disini sejak beberapa puluh menit yang lalu. Maafkan aku, Ra. Kau sudah lama kenal aku bukan? Jangan cemberut begitu, Ra. Aku kan sudah minta maaf. Atau kamu cemberut karena belum mendengar cerita terbaru tentangku. Baiklah kalau begitu akan ku ceritakan. Ini bukan tentang gadis di bawah pohon pinus itu. Ini tentang gadis lain. Gadis yang pada awalnya sangat tidak suka melihatku. Ya, benar sekali. Setiap kali aku berpapasan dengannya, dia selalu bersembunyi. Kamu kan tahu, aku suka menyapa teman-temanku. Dan itu adalah hal yang biasa, bukan? Begitu juga dengan kejadian kali ini. Tidak lebih daripada itu. Ra, gadis ini sedikit beda, ku rasa. Dia tidak pernah suka melihatku sama sekali, Ra. Tidak tahu alasannya kenapa, Ra. Katanya sih, pembawaan gadis ini super cuek, aku tertantang untuk menantang ke-cuekannya. Ku rasa aku bisa berhasil kali ini, tapi sepertinya susah juga menaklukkan hatinya. Ah, bukan i...

Hai Jenderal

Image
Hai Jenderal. Apa kabarmu di sana? Sudah pasti luar biasa bukan? Masih ingatkah engkau denganku? Ah, aku ragu jika kau masih ingat. Aku pengagummu Jenderal Aku seorang bocah yang selalu melihatmu dari langit. Ya sekarang aku di langit Jenderal. Aku sudah bosan di bumi. Bumi selalu mengganggu ku. Kau pernah melihatku di bumi. Image : hasbee.wordpress.com  Ya, itu pun hanya sekali. Kala itu aku tersenyum sipu padamu. Dan kau tersenyum sumringah melihatku. Hanya itu perkenalan kita Jenderal, Wajar saja, jika kau tidak ingat padaku. Tapi tenang saja Jenderal. Aku masih sangat ingat padamu. Dan aku selalu melihatmu dari langit. Oh, Jenderal yang sangat ku rindukan, dari aku pengagummu.

Malam Minggu dan Semangkuk Bakso.

Image
Hujan masih terlalu lebat untuk dihadapi. Walaupun hanya gerimis sedang, tapi cukup untuk melahirkan virus dan bakteri penyebab flu untuk kadar manusia seperti Jihan. Jihan gadis berperawakan tinggi besar yang mala mini mengajakku keluar untuk mencari suasana yang sedikit berbeda. Kami sebenarnya sudah lama juga tidak keluar bareng. Biasanya dia keluar dengan pasangannya, tapi entah ada angin ribut apa, dia mengajakku keluar malam ini. “Malam ini kau temani aku keluar,” begitu katanya. Image :  www.wafertango.com Seperti biasa, aku langsung mengiyakan ajakannya. “Ok, sip, jemput,” jawabku singkat padat nan jelas tanpa bertanya kemana dan untuk apa. Tepat pukul 09.00, dia menjemputku. Dari jauh sudah terdengar suara motor saktinya yang meraung-raung. Dia memang seorang perempuan namun perkasa. Maklum saja, temannya lelaki semua termasuk aku. Tentang teman perempuan, hanya satu dua saja. sesaat kemudian ia dan motornya berdiri tepat di depan serambi rumahku. ...