Posts

Ra, Dengarkanlah Saja XIII

Image
Ra, kamu ingat tidak lagu di ketika kita masih duduk di bangku TK, "mawar melati semuanya indah?" Mungkin itu penyebabnya aku menceritakan banyak kisah hidupku dengan banyak "mawar melati" yang menurutku semuanya indah. Aku tidak bohong Ra. Sebelum kita menikah semua akan terlihat indah dimata kita. Ada banyak hal yang positif terlihat dari mawar A, melati B, mawar C, melati D dan seterusnya. Namanya saja mata lelaki. Susah untuk dipisahkan dari sekelumit permasalahan dasar atas nama nafsu. Nah malam ini aku mau bercerita panjang lebar tentang kegelisahanku untuk menghalalkan segala cara demi kepuasan nafsu belaka. Ceritanya sepulangnya aku dari negeri orang putih, pada bulan-bulan awal aku sangat tersiksa. Di sini tidak ada “ mawar ” yag bisa di nikmati secara sembarangan. Pun itu bisa harus melalui proses yang berliku dengan membayar si A, B, C dan D. Peraturannya sangat ketat. Bisa-bisa aku di cambuk dihadapan khalayak ramai. Untuk mengobati kerinduan akan...

Untuk Kita: Happy Anniversary, Ra.

Image
Ra, suasana sedikit pelik akhir-akhir ini. Aku tidak tahu. Entah mengapa. Terasa ada yang berubah begitu. Tapi tak mengapa lah, anggap saja angin lalu. Sekali berlalu tak pernah kembali. Begitu juga dengan kisah hidup kita. Seandainya aku berubah pikiran dan pergi beberapa minggu sebelum meminang kamu, bisa saja kita tidak serumah. Malam ini tidak ada kisah tentang berapa banyak perempuan yang pernah lengket dengan hati dan hidupku. Bukan itu, Ra. Aku bercerita tentang perempuan di masa laluku bukan tanpa alasan. Niatku cuma satu, hanya ingin memperjelas bahwa aku bukanlah lelaki sempurna dengan kehidupan normal seperti ahli surga. Masa laluku sangatlah suram. Walaupun tidak lebih suram dari teman-teman seusiaku saat itu. Ra, kamu masih mencintaiku? Ku harap masih. Karena itu bukan sebuah pertanyaan serius dan tidak layak untuk ku tanyakan. Pasti cinta itu sekali seumur hidup. Sepatutnya begitu kan Ra. Ra, kamu lupa sesuatu kali ini. Ini Anniversary ke-6 sejak kita berjumpa kala itu,...

Ra, Aku Kangen (Surat Cinta Untuk Ra)

Image
Ra, aku kangen sekangen-kangennya lho. Ingin rasa hati untuk menangis, tapi tiada erti, Ra. Kamu tahu tidak, tidak mudah lho berpisah dengan kamu. Tidak ada kopi buatanmu. Tidak ada ledekan mesra dengan sedikit bumbu cemburu yang kau siratkan dari wajahmu. Ra, kamu baik-baik saja kan di sana? Aku di sini menikmati purnama kali ini sendirian. Tepatnya di emperan toko sambil menengadah kepala di sela-sela gedung pencakar langit metropolitan. Ra, kamu ingat tidak ketika awal mula kita melihat purnama berdua? Waktu itu lho, ketika sebelum pesta sederhana kita. Ketika awal minggu kita menikah. Aku pernah bilang kalau ditengah-tengah bulan itu ada wajahmu. Kamu pun tersenyum sipu. Saking senangnya kamu, tiba-tiba kau kecup keningku. Ingatanku masih tertuju pada moment itu, Ra. Ra, kamu baik-baik saja kan di sana? Aku khawatir Ra. Apalagi saat purnama begini. Ra, kamu juga melihat purnama yang sama, bukan? Ku harap kamu menyempatkan diri untuk menikmati cahaya temaram purnama sejenak walaupu...

Ra, Dengarkanlah Saja XII

Image
Ra, Alhamdulillah kita sudah kembali ke kota Bunda, walaupun untuk beberapa saat lagi kita harus pindah lagi ke kota PaPa. Ini juga kali pertama kita berlebaran dirumah dua keluarga. Kamu ingat kan suatu waktu aku pernah menulis tentang Menikah: Behind The Scene . Di sana aku menulis tentang hakikat menikah itu ya mempersatukan dua keluarga dari dua latar belakang yang berbeda. Dan sekali lagi, Alhamdulillah kita sudah berhasil melakukannya. Semoga ke depan kita bisa melanggengkannya untuk selamanya. Kalau orang Melayu cakap, “sampai bile-bile”. Kamu setuju kan, Ra? Ra, kue lebaran kita masih banyak kan? Bawakan kemari, kita cicipi bersama. Aku mau nyicipin kue buatanmu itu lho. Kan aku tahu kamu pandai meracik kue, walaupun sesekali kamu gagal bereksperimen. Bolehkah aku sedikit tersenyum mengenai kegagalanmu membuat kue, Ra? Kalaupun tidak, pun tidak mengapa. Karena esensinya bukan pada kenikmatan kuenya, tapi pada seberapa besar keikhlasan dan kebersamaan ketika kita menikmat...

Ra, Dengarkanlah Saja XI

Image
Ra, Alhamdulillah, lebaran Idhul Fitri kita sangat menyenangkan bukan? Ngomong-ngomong kapan kita akan punya momongan ya? Seperti tetangga sebelah itu lho. Baru dua tahun menikah, sudah punya tiga anak. Kamu jangan berfirasat yang jelek terhadap tetangga kita. kebetulan mereka mempunyai anak kembar tiga, makanya dua tahun bisa langsung punya tiga anak. Bukan karena kecelakaan yang diluar prediksi, Ra. Eh, kamu sudah siapkan barang-barang untuk pulang ke rumah mertua belum? Karena kita akan berangkat pagi-pagi. Petualangan pertama dengan status suami istri. Alhamdulillah. Perjalanan kita besok akan sangat panjang nan romantik. Betapa tidak, kalau dulu aku sering di temani gadis yang ku anggap teman dekat, nah sekarang aku sudah di temani oleh seorang gadis muslimah yang sudah sah menjadi pendamping di mata agama apalagi di mata negara. Ra, malam ini aku ingin menikmati kopi buatanmu lagi, Ra. Kopi terbaik dari racikan terbaik oleh pendamping terbaik. Pasti rasa kopinya tetap pahit j...

Ra, Dengarkanlah Saja X

Image
Ra, malam ini aku merasa sedih. Kamu tahu kenapa? Karena kamu masih merasa sedih perihal ceritaku beberapa malam yang lalu. Ra, benar saja. Ketika itu, aku belum mampu berpikir lebih jernih. Aku benar-benar khilaf. Karena kehidupan di sana ya begitu adanya. Tergantung pada pertahanan diri yang kita bawa dari kampung. Kalau benteng pertahanannya baja, ya, Insya Allah kita aman-aman saja. Nah, ini lain cerita. Aku yang bukan siapa-siapa, Cuma sempat mempersiapkan tameng abal-abal ketika pergi ke sana. Makanya aku terjerumus ke kehidupan yang di larang agama kita, Ra. Masihkah kau mencintaiku, Ra? Ra, pikiranku kacau sekarang jika kamu tidak mau bicara dan bermuka cemberut begitu. Ra, haruskah aku berlutut maaf padamu? Namun sebelum itu, aku mau menuntunmu menuju tempat wudhu bersama, seperti biasa. Malam ini kita akan melakukan ritual rutin kita. sudah seminggu lebih kita meninggalkannya. Siapa tahu dengan melakukan shalat malam bersama dapat meredakan amarah dan emosi kita. kita akan b...

Menulislah Supaya Tenang.

“Menulis itu tidak selalu harus puitis atau politis. Menulis dengan gaya nyeleneh pun kadang-kadang bisa membawa perubahan besar untuk lingkungan kita. Menulis itu bukan tentang berapa banyak karakter kata yang kita tulis, tapi tentang seberapa besar pengaruh tulisan kita.” Ini adalah status penuh saya di Facebook pada tanggal 11 November 2013. Saya menulis ini adalah tentang kekesalan saya yang tidak bisa menulis dengan baik. Kecewa. Pada saat itu, benar. Saya kecewa. Namun di sebalik itu, ada pencerahan yang hadir di balik status itu. Kita menulis bukan untuk di muat di Koran, bukan untuk di anggap sebagai penulis handal. Tapi untuk apa juga? Menurut saya menulis itu lebih daripada sekedar bayaran di koran-koran, atau pun wadah yang membuat kita bisa terhindar dari jurang kemiskinan. Menulis bagi saya adalah sebuah langkah mempertahankan gagasan agar tetap eksis melalui kata-kata. Sekarang timbul pertanyaan, bagaimana bisa melahirkan kata-kata yang tetap eksis sedangkan kemampuan...