Posts

Ra, Dengarkanlah Saja XX

Image
Ra, kamu ingat tidak penggalan lagu iklan salah satu produk pembersih wajah kaum hawa suatu masa dulu. Kalau kamu lupa, boleh aku tirukan lagi, kira-kira begini, “Walau badai menghadang, ingatlah ku kan selalu setia menjagamu, berdua kita lewati jalan yang berliku tajam.” Kamu sudah ingat sekarang? Yang kamu perlu tahu, setiap aku memutar memori tentang lagu itu, aku selalu ingat jerawatmu 10 tahun yang lalu. Ah, Ra jangan kau pukul aku begitu, sakit tahu. Aku bercanda kok. Kamu mau tahu yang sebenarnya? Setiap aku mendengar lagu itu, aku secara teratur mengucapkan syukur kepada Tuhan atas pertemuan yang dihadiahkan untuk kita. kamu tentu sangat paham kan bagaimana kondisi emosional aku yang kadang-kadang tidak stabil. Sepertinya aku sudah menceritakannya sekali waktu di awal pertemuan kita. kamu sudah banyak mendewasakan aku dan yang lebih penting engkau punya andil dalam mendekatkan aku kepada Pencipta kita. Ya, itu yang paling penting, Ra. Terima kasih, Ra. Ra, aku teringat sat...

Ra, Dengarkanlah Saja XIX

Image
Ra, aku cuma mau mengingatkan kalau hari ini sepuluh tahun yang lalu kita saling bertukar pandang. Kamu melihat ke arah barat aku melihat ke arah timur, lalu kornea mata kita berjumpa pada titik yang sama yaitu keyakinan dan keikhlasan. Kita membangun hubungan kala itu sangat tidak mudah. mulai dari sikap temperamen aku yang tidak karuan dan juga kadar kecemburuan kamu yang luar biasa. Aku bisa memaklumi itu, karena kita sama-sama berada pada ego masing-masing yang masih tinggi. Apalagi saat beberapa hari sebelum aku melamarmu, aku sempat kebingungan dan aku hendak ingin pergi lagi. Kamu ingat kan peristiwa bodoh itu. Terkadang aku memang benar-benar bodoh pada banyak hal, Ra. Harap maklumi saja ya. Ra, kamu tahu tidak berapa besar sikap respek aku terhadapmu ketika aku berjumpa denganmu dulu. Sikap respek ku terhadapmu sangat besar hingga aku tidak berani berbicara bertatap wajah denganmu. Aku tidak tahu mengapa itu terjadi. Mungkin kamu lebih dewasa daripada aku, Ra. Anggap saja beg...

Ra, Dengarkanlah Saja XVII

Image
Ra, kangen kamu boleh? Sayang sama kamu boleh? Sayang seperti ketika jumpa dulu. Ketika kita sama-sama menyembunyikan rasa rindu berbulan-bulan. Kamu ingat tidak ketika kamu mengantarkan aku makan malam berisikan daging rendang itu. Ingat tidak? Aku masih sangat ingat peristiwa bersejarah itu lho . Kamu mengirimkan aku pesan singkat yang hingga beberapa lama masih ku simpan. Dan pesan singkat itu terhapus ketika ponsel serba bisa yang ku miliki menemui ajalnya. Hehehe. Eh, Ra, aku hampir punya kerja tetap lho, tapi masih tetap sebagai buruh, bukan pemimpin. Tak mengapalah, asalkan kerja kita halal kan Ra? Ra, ada satu cerita yang ku alami jauh sebelum aku mengenal kamu. Ini tentang teman kelasku yang diam-diam juga kami saling jatuh cinta. Awalnya kami memang tidak saling mengenal hingga suatu hari kami dihadapkan pada kenyataan untuk bekerja sama dalam tugas kelompok. Namanya juga pelajar kan. Pasti ada banyak tugas dari dosen. Nah, ini adalah awal mula kedekatan kami. Setah...

Takengon Part I

Image
Kali ini perjalanan kami menuju negeri Antara yaitu tanah Gayo. Gayo yang kalau dalam bahasa Denmark berarti Negeri Yang Indah. Saya juga baru tahu dari salah satu teman Facebook juga. Sedangkan dalam bahasa Spanyol Gayo, itu berarti yang menarik perhatian. Maka dari itu tanah Gayo menarik perhatian saya untuk bisa menginjakkan kaki di sana. Nah untuk trip ke tanah Gayo persiapannya lumayan lama. Kalau tidak salah sekitar 2 hari. Ini disebabkan untuk mengumpulkan beberapa orang hingga akhirnya kami sepakat untuk jalan dengan mobil berenam. Tujuan utamanya adalah untuk jalan-jalan. Kami menempuh perjalanan sekitar 6 jam karena ada beberapa tempat yang kami singgah sebelum sampai ke sana. Dan akhirnya kami sampai di sana menjelang magrib dan langsung singgah di masjid di kota Takengon. Shalat magrib? Sudah pasti.  Berikut adalah oleh-oleh dari tanah Gayo. Sebelum Zaman Selfie, fotonya ya begini.  Titik fokusnya itu, gunung dibelakang kami. Saat itu hujan l...

Ra, Dengarkanlah Saja XVI

Image
Ra, sudah lama sekali aku tidak berbagi cerita denganmu kan. Entah itu karena kita terlalu sibuk atau kamu yang selalu tidur terlalu cepat beberapa minggu ini. Aku kesepian lho , Ra. Tidak ada kawan cerita. Ah, tak mengapa lah, aku sangat memberi pengertian akan hal itu. Tidak menjadi soal, karena kamu sudah sangat baik bagiku. Aku harus banyak mengalah dan berusaha sabar. Karena yang aku tahu, kealpaanmu berarti ada kesalahan pada diriku pribadi. Aku harus menjaga eksistensi egoisme harus tetap di bawah rata-rata. Benar kan Ra? Untuk malam ini kita minum teh hangat saja. Dan tadi, ada ku belikan gorengan tahu dan tempe kesukaanmu di masa gadis dulu. Sepertinya sudah sedikit dingin. Kamu ambilkan saja dulu. Nanti kita celupin ke teh buatanmu. Terima kasih, Ra. Sekarang aku mau melanjutkan ceritaku yang tertunda itu. Sebelumnya lihat dulu ke awan sana, ada beberapa bintang yang tersenyum padamu. Ra, dulu lama sekali ketika aku mulai jalan-jalan ke beberapa kota aku bertemu de...

Delapan Jam Di Bandung.

Image
Kali ini saya ingin bercerita tentang trip dadakan saya ke Bandung. Bandung lautan api, atau Bandung lautan asmara. Keduanya sama saja. Di era zaman awal kemerdekaan disebut Bandung lautan api. Setelah beberapa puluh tahun kemerdekaan dinamakan Bandung lautan asmara. Sebenarnya bukan itu fokus saya. baiklah, ini trip dadakan saya ke Bandung. Kata orang-orang sih Bandung itu dingin, masyarakatnya lembut, perempuannya cantik. Dan saya membuktikannya ketiga rahasia umum itu. Ceritanya begini, saya tidak ada niatan untuk pergi ke Bandung sebenarnya. Tapi karena ada seorang teman di sana saya memutuskan untuk ke Bandung. Sekedar menginjakkan kaki sana, itu niatan awal saya. Tidak ada perencanaan yang lama, hanya dalam waktu dua jam. Saya mempersiapkan dua baju, satu celana, dan dua lain-lain. Saya berangkat dari hotel, kebetulan menginap di hotel Jakarta, dengan memanfaatkan Go-Jek. Alasannya saya masih buta jalanan semrawut di ibukota. Nah, sesampai saya di Bandung saya di jemput oleh te...

Ra, Dengarkanlah Saja XV

Image
Bismillah. Aku mulai menulis dengan Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Begitu lho Ra. Memang harus begitu, menulis itu butuh keikhlasan dan ketekunan yang luar biasa. Kamu harus percaya apa yang aku bilang. Aku tidak memaksa kamu, tapi aku cuma berbagi ilmu tentang menulis tingkat abal-abal. Begitu aku yang aku rasakan, menulis itu adalah proses menggabungkan beberapa ide juga masalah memilih kata yang tepat untuk mendapatkan rangkaian yang sesuai. Ra, malam ini tepat 24 hari aku tidak disampingmu. Maka dari itu aku cuma bisa mengirimkan sebuah surat cinta tanda sayangku terhadapmu belum sempat terkikis dan ini karena Allah, Ra. Yakini saja begitu, karena jika pun aku berbohong, Allah masih bisa mengetahui kebenarannya. Ah, tak usahlah aku berbicara yang bukan-bukan karena nantinya kamu akan merasa bersedih lagi. Apalagi tidak ada aku di sampingmu. Aku tidak sanggup membayangkan itu terjadi padamu. Ra, melalui surat ini aku tetap mau bercerita tentang masa l...