Posts

Showing posts from July, 2015

Ra, Dengarkanlah Saja XII

Image
Ra, Alhamdulillah kita sudah kembali ke kota Bunda, walaupun untuk beberapa saat lagi kita harus pindah lagi ke kota PaPa. Ini juga kali pertama kita berlebaran dirumah dua keluarga. Kamu ingat kan suatu waktu aku pernah menulis tentang Menikah: Behind The Scene . Di sana aku menulis tentang hakikat menikah itu ya mempersatukan dua keluarga dari dua latar belakang yang berbeda. Dan sekali lagi, Alhamdulillah kita sudah berhasil melakukannya. Semoga ke depan kita bisa melanggengkannya untuk selamanya. Kalau orang Melayu cakap, “sampai bile-bile”. Kamu setuju kan, Ra? Ra, kue lebaran kita masih banyak kan? Bawakan kemari, kita cicipi bersama. Aku mau nyicipin kue buatanmu itu lho. Kan aku tahu kamu pandai meracik kue, walaupun sesekali kamu gagal bereksperimen. Bolehkah aku sedikit tersenyum mengenai kegagalanmu membuat kue, Ra? Kalaupun tidak, pun tidak mengapa. Karena esensinya bukan pada kenikmatan kuenya, tapi pada seberapa besar keikhlasan dan kebersamaan ketika kita menikmat

Ra, Dengarkanlah Saja XI

Image
Ra, Alhamdulillah, lebaran Idhul Fitri kita sangat menyenangkan bukan? Ngomong-ngomong kapan kita akan punya momongan ya? Seperti tetangga sebelah itu lho. Baru dua tahun menikah, sudah punya tiga anak. Kamu jangan berfirasat yang jelek terhadap tetangga kita. kebetulan mereka mempunyai anak kembar tiga, makanya dua tahun bisa langsung punya tiga anak. Bukan karena kecelakaan yang diluar prediksi, Ra. Eh, kamu sudah siapkan barang-barang untuk pulang ke rumah mertua belum? Karena kita akan berangkat pagi-pagi. Petualangan pertama dengan status suami istri. Alhamdulillah. Perjalanan kita besok akan sangat panjang nan romantik. Betapa tidak, kalau dulu aku sering di temani gadis yang ku anggap teman dekat, nah sekarang aku sudah di temani oleh seorang gadis muslimah yang sudah sah menjadi pendamping di mata agama apalagi di mata negara. Ra, malam ini aku ingin menikmati kopi buatanmu lagi, Ra. Kopi terbaik dari racikan terbaik oleh pendamping terbaik. Pasti rasa kopinya tetap pahit j

Ra, Dengarkanlah Saja X

Image
Ra, malam ini aku merasa sedih. Kamu tahu kenapa? Karena kamu masih merasa sedih perihal ceritaku beberapa malam yang lalu. Ra, benar saja. Ketika itu, aku belum mampu berpikir lebih jernih. Aku benar-benar khilaf. Karena kehidupan di sana ya begitu adanya. Tergantung pada pertahanan diri yang kita bawa dari kampung. Kalau benteng pertahanannya baja, ya, Insya Allah kita aman-aman saja. Nah, ini lain cerita. Aku yang bukan siapa-siapa, Cuma sempat mempersiapkan tameng abal-abal ketika pergi ke sana. Makanya aku terjerumus ke kehidupan yang di larang agama kita, Ra. Masihkah kau mencintaiku, Ra? Ra, pikiranku kacau sekarang jika kamu tidak mau bicara dan bermuka cemberut begitu. Ra, haruskah aku berlutut maaf padamu? Namun sebelum itu, aku mau menuntunmu menuju tempat wudhu bersama, seperti biasa. Malam ini kita akan melakukan ritual rutin kita. sudah seminggu lebih kita meninggalkannya. Siapa tahu dengan melakukan shalat malam bersama dapat meredakan amarah dan emosi kita. kita akan b

Menulislah Supaya Tenang.

“Menulis itu tidak selalu harus puitis atau politis. Menulis dengan gaya nyeleneh pun kadang-kadang bisa membawa perubahan besar untuk lingkungan kita. Menulis itu bukan tentang berapa banyak karakter kata yang kita tulis, tapi tentang seberapa besar pengaruh tulisan kita.” Ini adalah status penuh saya di Facebook pada tanggal 11 November 2013. Saya menulis ini adalah tentang kekesalan saya yang tidak bisa menulis dengan baik. Kecewa. Pada saat itu, benar. Saya kecewa. Namun di sebalik itu, ada pencerahan yang hadir di balik status itu. Kita menulis bukan untuk di muat di Koran, bukan untuk di anggap sebagai penulis handal. Tapi untuk apa juga? Menurut saya menulis itu lebih daripada sekedar bayaran di koran-koran, atau pun wadah yang membuat kita bisa terhindar dari jurang kemiskinan. Menulis bagi saya adalah sebuah langkah mempertahankan gagasan agar tetap eksis melalui kata-kata. Sekarang timbul pertanyaan, bagaimana bisa melahirkan kata-kata yang tetap eksis sedangkan kemampuan

Ra, Dengarkanlah Saja IX

Image
Ra, aku bisa saja sangat berdosa pada diriku sendiri dan pada kamu. Aku benar-benar tidak kuasa untuk bercerita tentang hal ini. tentunya terkait dengan masalah perempuan. Aku sangat teringat ketika kamu duduk di pojok bandara ketika melepaskan ku pergi untuk melanjutkan studi ke luar negera. Kamu menyiratkan perasaan tidak ingin melepaskan kepergianku. Walaupun saat itu kita masih teman biasa. Kamu ingat bukan? aku tidak punya perasaan apa-apa terhadapmu selain sebagai teman. Begitulah ketika itu. Aku ingin bercerita tentang kehidupan ku di luar negara sana. Dan tidak lepas daripada pesona gadis di sana. Ya, benar sekali. Awalnya adalah proses adaptasi dengan lingkungan sekitar. Kehidupan di sana, tentunya kamu sudah sangat paham. Serba bebas, tidak ada larangan. Dari sinilah cerita itu bermula. Ra, sekali lagi aku berlutut maaf padamu dan kamu harus mendengar cerita ini. dengan sangat berat, kamu harus mendengarnya. Setelah dua bulan aku di sana, aku mulai sering menjeljahi klub

Jaga Hatimu Untuknya

Image
Sekali waktu, ketika menginjakkan kaki di Mesjid Negara Malaysia, terlintas dalam benak saya yang paling dalam untuk menggandeng istri untuk shalat bersama di sana. Keinginan yang dalam itu kemudian membuncah lagi ketika secara tiba-tiba terlintas juga wajah si calon ibu untuk anak-anak saya tersebut. Saya sering memanggilnya dengan sebutan.... Setelah menyelesaikan shalat beberapa saat kemudian, tanpa terasa airmata saya jatuh berlinang. Tanpa bisa di tunda. Saya langsung mengucapkan beberapa patah ayat dan doa, semoga Allah mempermudah jalan menuju kesana. Saya tetap yakin dan percaya. Karena Allah punya rencana yang luar biasa. Jaga hatimu untuknya. Kuala Lumpur, 2 Maret 2015.

Ra, Dengarkanlah Saja VII

Image
Ra, tidak terasa sudah genap setahun kita berumah tangga. Ini adalah Ramadhan pertama kita semeja makan. Seperti kata orang-orang, Ramadhan bersama istri tercinta itu penuh dengan kebahagian dan keceriaan. Walaupun makanan berbukanya cuma tahu goreng dan air tebu, tetap terasa nikmat nan berkah. Terima kasih, Ra. Ra, aku punya cerita baru. Tentang aku di masa remaja, tepatnya ketika aku masih duduk di bangku Tsanawiyah, kelas tiga. Di mana masa tersebut banyak anak remaja mengenal pacaran, mengenal surat cinta, mengenal kirim salam kenal untuk hubungan yang katanya serius. Ku rasa kamu sangat paham itu, Ra. Bukankah kamu juga pernah mengalaminya, walaupun tidak di tahun yang berbeda. Setidaknya tidak ada perbedaan yang sangat jauh. Pun kamu sama-sama pernah sekolah seperti ku. Ra, yang perlu ku garis bawahi adalah aku mengidap sindrom marmut merah jambu tidak separah teman-temanku pada kebanyakan. Semisal, aku bertemu dengan perempuan, yang notabene nya meu ie breuh alias c

Kemerdekaan Cinta

Image
Ini puisi ketika saya "nembak" cewek untuk pertama kalinya. Ini bukan tentang masalah gagal move on. Ini lebih pada mengerti masa lalu, bahwa kita pernah "melakukan" hal hal yang di luar logika berfikir dewasa kita. Namanya saja anak kecil, kalau kata Fatih Unru. Kemerdekaan Cinta Dingin dunia Telah membuatku beku Mati rasa Tak bergerak,lesu,lemas Seakan sang pencabut nyawa Menghampiri jiwaku Tapi saat kau hadir Dengan cahaya cinta Semua itu berubah Semua kebekuan hancur lebur Menjadi bongkahan tak bertuan Kehangatan cahaya cintamu Menyelamatkanku Dari kebisuan yang tak terkendali 15 Agustus 2008 The Freedom of Love The world was cold Has made me freeze Numb wasn't move, listless, weak Like the angel of death Came to my soul But when you came With love light all about it was change All freeze things were break became a chunks without the king Warmness of  your love light Saved me From the mute that can