Posts

Showing posts from 2015

Doa - Doa yang Belum Usai

Image
Adalah sikap dan tabiatmu yang anggun sehingga membuatku gagal mengendalikan perasaan yang kebetulan ku kunci rapat untuk sosok berwujud perempuan. Namun kamu berhasil menghancurkan kunci itu. Aku tidak bisa membendung rasa dan sikapku terhadapku. Ini gila, menurutku. Kamu tahu tidak, dalam beberapa kesempatan aku menyempatkan diri untuk memandangmu dalam-dalam hingga hilang dalam keramaian. Selain itu pula, kamu mungkin sudah membuatku gagal menahan perasaan tapi aku tetap bisa menempatkan perasaanku sebagai teman, saudara juga sebagai calon pendamping hidup didalam dunia nyata. Di balik kegelisahan itu, aku menyempatkan diri untuk selalu menyelipkan beberapa untaian doa kepada Penguasa hati. *** "Semoga Engkau memperkenalkan aku dengannya, Ya Rabb", adalah doa pertama yang ku panjatkan ketika pertama kalinya aku menatap wajahmu di bawah pohon cemara itu. Kamu sudah barang tentu tidak mengenalku kala itu karena kamu masih sangat belia. Kamu pasti terheran dan bertanya-tany

Napak Tilas ke Museum Aceh dan Makam Iskandar Muda

Image
Tepat pada tanggal 21 November 2015, saya dan teman-teman melakukan tugas kunjungan lapangan yaitu ke museum Aceh. Kunjungan ini sudah direncanakan sejak tiga hari sebelumnya, yaitu pada hari rabu tanggal 18 November 2015. Pada saat berdiskusi tentang waktu kunjungan banyak yang memberi pendapat masing-masing hingga pada akhirnya di pastikan kunjungan dilaksanakan pada hari sabtu tersebut. Kami merencanakan keberangkatan pada pukul 02.00. sebelum berangkat saya melakukan beberapa persiapan seperti menyiapkan buku tulis dan pulpen untuk menyiasati hal-hal yang tidak diinginkan. Tepat pada pukul 01.00, saya bertanya kabar dati teman-teman yang lain apakah mereka sudah berangkat atau belum. Rupanya beberapa dari mereka sudah berangkat duluan. Tinggallah beberapa mahasiswi yang kebetulan pergi bersama dosen pembimbing. Saya sempat berdikusi kembali dengan beberapa mahasiswi di sana perihal perlengkapan apa saja yang harus disiapkan sebelum keberangkatan. Saya juga menanyakan apakah k

Surat Untukmu Perempuan Yang Tercecer

Image
I Untuk kamu perempuan yang tidak pernah bosan-bosan menggangu ketenangan hidupku. Hidupmu tidak lebih hanya sebagai benalu dalam tubuhku. Kamu selalu menjadi momok terbesar bagiku. Minggu depan, tepat empat bulan penuh kamu membuatku kejang-kejang, mati pelan-pelan. Aku tidak tahu apakah kamu sadar perihal tingkah bangsatmu. Aku benar-benar tidak tahu. Menurut penglihatanku kamu sangat menikmati peranmu dalam menghancurkanku. Dalihmu selalu ingin disayang seperti orang lain. Dalihmu meminta keadilan. Eh, malah kamunya yang tidak sadar diri. Keadilan itu menurut porsinya lho. Adil itu bukan masalah dua di bagi dua sama dengan satu. Keadilan itu masalah memantaskan diri untuk di-adil-kan. Ku rasa kamu sangat “gagal paham” tentang yang aku katakan. Ku jelaskan beribu kali pun kamu tidak sanggup menjangkau. Karena nafsu bejatmu sudah menutupi nuranimu selaku perempuan dan manusia merdeka.              Eh aku lupa sesuatu. Mungkin ini belum pernah ku ceritakan padamu. Mungkin

Akhirnya, Ra

Image
Ra, beberapa hari yang lalu aku menyempatkan diri untuk membaca chat lama kita. Masih terlihat utuh bagaimana masa awal kita berkenalan. Waktu itu aku ingat betul bagaimana fesbuk mencengkeram malam-malam kita. Di mulai dengan ucapan salam, seolah-olah aku seorang alim padahal dhalim, kala itu. Alhamdulillah sekarang, berkat kamu aku sudah jauh sedikit baik. Ra, banyak hal-hal yang terngiang kembali, lho. Semisal ketika sering bersama dan menjadi bahan tertawaan teman sekantormu. Nah, kita bisa apa kan. Jalani aja apa yang masih bisa di jalani. Ra, selanjutnya ada sekali waktu kita tidak lagi berhubungan, entah karena akunya yang kurang perhatian atau kamu nya yang sudah sangat sibuk dengan tugas yang menumpuk. Aku, saat itu, mulai mundur teratur, mungkin juga kamu berpikiran yang sama dengan pilihanku. Tapi ya Alhamdulillah pada akhirnya untuk pertama kalinya setelah sekian tahun kita bisa melakukan napak tilas dengan jalan-jalan yang masih sama seperti dulu. Kamu pura-pura k

Ra, Dengarkanlah Saja XX

Image
Ra, kamu ingat tidak penggalan lagu iklan salah satu produk pembersih wajah kaum hawa suatu masa dulu. Kalau kamu lupa, boleh aku tirukan lagi, kira-kira begini, “Walau badai menghadang, ingatlah ku kan selalu setia menjagamu, berdua kita lewati jalan yang berliku tajam.” Kamu sudah ingat sekarang? Yang kamu perlu tahu, setiap aku memutar memori tentang lagu itu, aku selalu ingat jerawatmu 10 tahun yang lalu. Ah, Ra jangan kau pukul aku begitu, sakit tahu. Aku bercanda kok. Kamu mau tahu yang sebenarnya? Setiap aku mendengar lagu itu, aku secara teratur mengucapkan syukur kepada Tuhan atas pertemuan yang dihadiahkan untuk kita. kamu tentu sangat paham kan bagaimana kondisi emosional aku yang kadang-kadang tidak stabil. Sepertinya aku sudah menceritakannya sekali waktu di awal pertemuan kita. kamu sudah banyak mendewasakan aku dan yang lebih penting engkau punya andil dalam mendekatkan aku kepada Pencipta kita. Ya, itu yang paling penting, Ra. Terima kasih, Ra. Ra, aku teringat sat

Ra, Dengarkanlah Saja XIX

Image
Ra, aku cuma mau mengingatkan kalau hari ini sepuluh tahun yang lalu kita saling bertukar pandang. Kamu melihat ke arah barat aku melihat ke arah timur, lalu kornea mata kita berjumpa pada titik yang sama yaitu keyakinan dan keikhlasan. Kita membangun hubungan kala itu sangat tidak mudah. mulai dari sikap temperamen aku yang tidak karuan dan juga kadar kecemburuan kamu yang luar biasa. Aku bisa memaklumi itu, karena kita sama-sama berada pada ego masing-masing yang masih tinggi. Apalagi saat beberapa hari sebelum aku melamarmu, aku sempat kebingungan dan aku hendak ingin pergi lagi. Kamu ingat kan peristiwa bodoh itu. Terkadang aku memang benar-benar bodoh pada banyak hal, Ra. Harap maklumi saja ya. Ra, kamu tahu tidak berapa besar sikap respek aku terhadapmu ketika aku berjumpa denganmu dulu. Sikap respek ku terhadapmu sangat besar hingga aku tidak berani berbicara bertatap wajah denganmu. Aku tidak tahu mengapa itu terjadi. Mungkin kamu lebih dewasa daripada aku, Ra. Anggap saja beg

Ra, Dengarkanlah Saja XVII

Image
Ra, kangen kamu boleh? Sayang sama kamu boleh? Sayang seperti ketika jumpa dulu. Ketika kita sama-sama menyembunyikan rasa rindu berbulan-bulan. Kamu ingat tidak ketika kamu mengantarkan aku makan malam berisikan daging rendang itu. Ingat tidak? Aku masih sangat ingat peristiwa bersejarah itu lho . Kamu mengirimkan aku pesan singkat yang hingga beberapa lama masih ku simpan. Dan pesan singkat itu terhapus ketika ponsel serba bisa yang ku miliki menemui ajalnya. Hehehe. Eh, Ra, aku hampir punya kerja tetap lho, tapi masih tetap sebagai buruh, bukan pemimpin. Tak mengapalah, asalkan kerja kita halal kan Ra? Ra, ada satu cerita yang ku alami jauh sebelum aku mengenal kamu. Ini tentang teman kelasku yang diam-diam juga kami saling jatuh cinta. Awalnya kami memang tidak saling mengenal hingga suatu hari kami dihadapkan pada kenyataan untuk bekerja sama dalam tugas kelompok. Namanya juga pelajar kan. Pasti ada banyak tugas dari dosen. Nah, ini adalah awal mula kedekatan kami. Setah

Takengon Part I

Image
Kali ini perjalanan kami menuju negeri Antara yaitu tanah Gayo. Gayo yang kalau dalam bahasa Denmark berarti Negeri Yang Indah. Saya juga baru tahu dari salah satu teman Facebook juga. Sedangkan dalam bahasa Spanyol Gayo, itu berarti yang menarik perhatian. Maka dari itu tanah Gayo menarik perhatian saya untuk bisa menginjakkan kaki di sana. Nah untuk trip ke tanah Gayo persiapannya lumayan lama. Kalau tidak salah sekitar 2 hari. Ini disebabkan untuk mengumpulkan beberapa orang hingga akhirnya kami sepakat untuk jalan dengan mobil berenam. Tujuan utamanya adalah untuk jalan-jalan. Kami menempuh perjalanan sekitar 6 jam karena ada beberapa tempat yang kami singgah sebelum sampai ke sana. Dan akhirnya kami sampai di sana menjelang magrib dan langsung singgah di masjid di kota Takengon. Shalat magrib? Sudah pasti.  Berikut adalah oleh-oleh dari tanah Gayo. Sebelum Zaman Selfie, fotonya ya begini.  Titik fokusnya itu, gunung dibelakang kami. Saat itu hujan lebat. M

Ra, Dengarkanlah Saja XVI

Image
Ra, sudah lama sekali aku tidak berbagi cerita denganmu kan. Entah itu karena kita terlalu sibuk atau kamu yang selalu tidur terlalu cepat beberapa minggu ini. Aku kesepian lho , Ra. Tidak ada kawan cerita. Ah, tak mengapa lah, aku sangat memberi pengertian akan hal itu. Tidak menjadi soal, karena kamu sudah sangat baik bagiku. Aku harus banyak mengalah dan berusaha sabar. Karena yang aku tahu, kealpaanmu berarti ada kesalahan pada diriku pribadi. Aku harus menjaga eksistensi egoisme harus tetap di bawah rata-rata. Benar kan Ra? Untuk malam ini kita minum teh hangat saja. Dan tadi, ada ku belikan gorengan tahu dan tempe kesukaanmu di masa gadis dulu. Sepertinya sudah sedikit dingin. Kamu ambilkan saja dulu. Nanti kita celupin ke teh buatanmu. Terima kasih, Ra. Sekarang aku mau melanjutkan ceritaku yang tertunda itu. Sebelumnya lihat dulu ke awan sana, ada beberapa bintang yang tersenyum padamu. Ra, dulu lama sekali ketika aku mulai jalan-jalan ke beberapa kota aku bertemu de

Delapan Jam Di Bandung.

Image
Kali ini saya ingin bercerita tentang trip dadakan saya ke Bandung. Bandung lautan api, atau Bandung lautan asmara. Keduanya sama saja. Di era zaman awal kemerdekaan disebut Bandung lautan api. Setelah beberapa puluh tahun kemerdekaan dinamakan Bandung lautan asmara. Sebenarnya bukan itu fokus saya. baiklah, ini trip dadakan saya ke Bandung. Kata orang-orang sih Bandung itu dingin, masyarakatnya lembut, perempuannya cantik. Dan saya membuktikannya ketiga rahasia umum itu. Ceritanya begini, saya tidak ada niatan untuk pergi ke Bandung sebenarnya. Tapi karena ada seorang teman di sana saya memutuskan untuk ke Bandung. Sekedar menginjakkan kaki sana, itu niatan awal saya. Tidak ada perencanaan yang lama, hanya dalam waktu dua jam. Saya mempersiapkan dua baju, satu celana, dan dua lain-lain. Saya berangkat dari hotel, kebetulan menginap di hotel Jakarta, dengan memanfaatkan Go-Jek. Alasannya saya masih buta jalanan semrawut di ibukota. Nah, sesampai saya di Bandung saya di jemput oleh te

Ra, Dengarkanlah Saja XV

Image
Bismillah. Aku mulai menulis dengan Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Begitu lho Ra. Memang harus begitu, menulis itu butuh keikhlasan dan ketekunan yang luar biasa. Kamu harus percaya apa yang aku bilang. Aku tidak memaksa kamu, tapi aku cuma berbagi ilmu tentang menulis tingkat abal-abal. Begitu aku yang aku rasakan, menulis itu adalah proses menggabungkan beberapa ide juga masalah memilih kata yang tepat untuk mendapatkan rangkaian yang sesuai. Ra, malam ini tepat 24 hari aku tidak disampingmu. Maka dari itu aku cuma bisa mengirimkan sebuah surat cinta tanda sayangku terhadapmu belum sempat terkikis dan ini karena Allah, Ra. Yakini saja begitu, karena jika pun aku berbohong, Allah masih bisa mengetahui kebenarannya. Ah, tak usahlah aku berbicara yang bukan-bukan karena nantinya kamu akan merasa bersedih lagi. Apalagi tidak ada aku di sampingmu. Aku tidak sanggup membayangkan itu terjadi padamu. Ra, melalui surat ini aku tetap mau bercerita tentang masa l

Ra, Dengarkanlah Saja XIV

Image
Ra, kita pergi ke taman kota yuk . Di sana kita bisa jalan-jalan sepuasnya lho . Seperti waktu itu, seminggu menjelang hari peminanganku. Saat itu aku sempat “menculikmu” sesaat hanya untuk sekedar jalan-jalan walaupun kita sudah berikrar untuk tidak jalan-jalan lagi. Hari itu adalah hari yang bersejarah bagiku, karena beberapa hari sebelumnya aku sempat mengalami guncangan keraguan yang berlebih sehingga ada keinginanku untuk menjauh lagi darimu dan menjadi rutinitas yang terulang untuk kesekian kalinya. Menurutku, hari dimana aku “menculikmu” adalah hari aku benar-benar memantapkan diri untuk meminangmu. Dan hasilnya kita berhasil untuk tinggal seatap rumah. Ra, kamu tahu tidak kenapa saat itu aku mengalami guncangan keyakinan yang membuncah? Ini disebabkan dua hari sebelum itu, teman perempuanku yang pernah dekat denganku pulang dari perantauannya. Dia seorang model sebuah majalah pariwisata ternama. Dia meneleponku untuk menjemputnya di bandara. Seperti biasa, aku tetap mengiyaka